Dalam kehidupan sehari-hari, cinta kerap diidentikkan dengan rasa yang menggelora, perhatian yang hangat, atau ungkapan manis yang memikat.
Namun dalam Islam, cinta bukan hanya tentang perasaan yang mengalir di hati, melainkan tindakan nyata yang mencerminkan kesetiaan dan ketulusan.
Allah SWT berfirman dalam surah Ali ‘Imran ayat 31:
Artinya: “Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.’”
Ayat ini bukan sekadar ajakan, tetapi penegasan. Ia menjadi cermin jujur bagi siapa pun yang mengaku mencintai Sang Pencipta.
Cinta sejati, dalam kacamata keimanan, bukan hanya tentang rasa, tapi tentang siapa yang kita ikuti.
Dan pilihan mengikuti Rasulullah SAW bukan sekadar bentuk penghormatan, ini adalah bukti tertinggi cinta kita kepada Allah SWT.
Menelaah Surah Ali ‘Imran ayat 31
Surah Ali ‘Imran ayat 31 bukan hanya pernyataan normatif, tetapi sebuah resep ilahiah (jalan pintas menuju cinta Allah yang hakiki).
Dalam ayat ini, Allah SWT langsung mengarahkan Rasulullah SAW untuk menyampaikan satu pesan yang begitu tegas namun sarat kelembutan:
“Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku.”
Di balik kalimat sederhana itu, tersimpan prinsip besar: cinta kepada Allah tak mungkin dipisahkan dari ittiba’ kepada Rasul-Nya.
Artinya, ukuran keaslian cinta seorang hamba kepada Allah SWT tidak cukup diukur dari pengakuan atau rasa yang meluap dalam hati, melainkan dari sejauh mana ia menjadikan Rasulullah sebagai kompas hidup.
Sebuah cinta yang tidak bertepuk sebelah tangan, melainkan dibalas dengan cinta yang lebih tinggi, lebih suci, dan tak terhingga.
Ampunan itu datang bukan karena kita sempurna, tetapi karena kita sungguh-sungguh ingin berjalan di jejak Rasulullah SAW.
Di sinilah makna “ittiba’” perlu dipahami. Ittiba’ berarti menjadikan nilai-nilai Rasulullah menyatu dengan laku sehari-hari.
Menyerap semangat kasih sayangnya, kejujurannya, keberaniannya dalam menegakkan kebenaran, serta keteguhannya dalam ibadah dan perjuangan.
Dengan ittiba’, sunnah bukan lagi hal yang sekadar dilakukan karena tuntutan fiqh, melainkan dilakoni sebagai bentuk cinta yang hidup.
Menjelma dalam akhlak, keputusan, hingga cara kita menghadapi ujian hidup.
Itulah cinta yang jujur, yang membawa kita lebih dekat kepada Rasulullah, juga mengantarkan kita pada pelukan kasih dan ampunan Allah SWT.
Mengapa Harus Rasulullah SAW?
Di tengah banyaknya tokoh besar dalam sejarah, hanya satu yang disebut oleh Allah sebagai “uswah hasanah” teladan yang paripurna.
Dalam Q.S. Al-Ahzab: 21, Allah menegaskan:
Artinya: “Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.”
Ayat ini merupakan pengakuan ilahiah atas keluhuran pribadi Rasulullah SAW.
Beliau bukan hanya utusan yang menyampaikan wahyu, tetapi juga cermin hidup dari pesan-pesan langit.
Setiap langkahnya, setiap ucapannya, bahkan diamnya sekalipun, memiliki nilai yang membimbing.
Mengapa harus beliau yang diikuti?
Karena tidak ada manusia yang lebih memahami Al-Qur’an dibandingkan dengan orang yang menerima langsung wahyu itu melalui jiwanya.
Rasulullah tidak hanya membaca ayat, beliau menghidupkannya dalam rumah tangga, pasar, medan perang, majelis ilmu, hingga tempat ibadah.
Melalui beliau, kita belajar bagaimana menjadi hamba yang taat sekaligus manusia yang mulia.
Dalam ibadah, beliau menunjukkan kekhusyukan yang tidak dibuat-buat.
Dalam akhlak, beliau mengajarkan kelembutan tanpa kehilangan ketegasan.
Dalam kehidupan sosial, beliau hadir sebagai pemimpin yang adil, sahabat yang setia, dan tetangga yang penuh empati.
Mengikuti Rasulullah bukan sekadar melestarikan sejarah, tapi menghidupkan ajaran yang tak lekang oleh zaman.
Beliau adalah Kompas bagi remaja yang mencari arah, orang tua yang memimpin keluarga, pemimpin yang memikul amanah, hingga siapa pun yang ingin hidup lebih baik.
Maka ketika Allah memerintahkan kita untuk mengikuti Rasul-Nya, itu bukan tuntutan tanpa alasan.
Ia adalah undangan: untuk menelusuri jalan yang telah terbukti mengantarkan manusia dari gelapnya kebodohan menuju cahaya petunjuk.
Dan di ujung jalan itu, ada cinta Allah yang menanti.
Bentuk-Bentuk Mengikuti Rasulullah SAW
Mengikuti Rasulullah SAW bukanlah perkara simbolik atau semata-mata ritual.
Ittiba’ kepada beliau berarti menjadikan seluruh aspek kehidupan kita sejalan dengan apa yang pernah dicontohkan oleh manusia terbaik sepanjang sejarah.
1. Dalam Ibadah
Shalat yang beliau ajarkan bukan hanya soal gerakan, melainkan ketenangan jiwa dalam perjumpaan dengan Allah.
Puasa bukan sekadar menahan lapar, tapi latihan pengendalian diri.
Dzikir dan doa yang beliau wariskan adalah jalinan mesra antara hamba dan Rabb-nya.
Maka, mengikuti beliau dalam ibadah berarti menelusuri jalan spiritual yang paling lurus dan bersih.
Beliau pernah bersabda, “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Bukhari)
Sebuah pesan jelas bahwa ibadah bukan sekadar niat baik, tapi harus berlandaskan contoh yang sahih.
2. Dalam Akhlak
Nabi Muhammad SAW adalah pribadi yang dihiasi oleh kejujuran, kesabaran, kelembutan, dan keberanian dalam kebaikan.
Beliau memaafkan ketika mampu membalas, menahan amarah saat dikhianati, dan memilih diam ketika kata bisa melukai.
Mengikuti beliau dalam akhlak berarti:
– Menjaga integritas meski tak diawasi.
– Bersikap sabar dalam menghadapi kesulitan.
– Tidak menyimpan dendam, meskipun pernah disakiti.
Karena akhlak Rasulullah bukanlah pencitraan, itu adalah refleksi dari hati yang dipenuhi cahaya petunjuk.
3. Dalam Kehidupan Sehari-hari
Banyak yang mengira mengikuti Nabi hanya berlaku di masjid atau majelis ilmu.
Padahal, sunnah itu hadir di meja makan, di tempat tidur, bahkan saat berdagang dan bercengkerama.
Beliau mengajarkan kita:
– Makan dengan adab, bukan asal kenyang.
– Tidur dengan zikir, bukan sekadar rebahan.
– Berdagang dengan amanah, bukan manipulasi.
– Berinteraksi dengan santun, bukan penuh prasangka.
Itulah bentuk ittiba’ yang sederhana, namun sarat keberkahan (membuat aktivitas harian menjadi ladang pahala).
4. Dalam Dakwah dan Perjuangan
Rasulullah SAW tidak pernah memaksakan kebenaran. Beliau menyampaikan dengan hikmah, dengan hati yang lebih dahulu mencintai mereka yang didakwahi.
Dalam memperjuangkan kebaikan, beliau sabar menghadapi cercaan, tetap lembut saat disakiti, dan konsisten ketika jalan terasa terjal.
Mengikuti beliau di medan dakwah bukan hanya dengan berbicara, tapi dengan menjadi pribadi yang bisa dipercaya.
Karena keteladanan lebih tajam dari sekadar retorika.
Singkatnya, mengikuti Rasulullah SAW adalah proses menghidupkan nilai-nilai kenabian dalam keseharian.
Sebuah proses yang barangkali tidak instan, tapi sangat mungkin dimulai hari ini, dari hal kecil.
Tanda Cinta kepada Allah SWT
Mengaku cinta itu mudah, cukup dengan lisan, selesai. Tapi cinta yang sejati tak berhenti di bibir; ia tumbuh di dalam hati, lalu menjelma dalam perbuatan.
Banyak orang berkata, “Aku mencintai Allah.” Namun Al-Qur’an tidak membiarkan cinta itu menjadi klaim kosong.
Surah Ali ‘Imran ayat 31 turun bukan untuk mengingkari perasaan, melainkan untuk menyaring kejujuran cinta:
“Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku.”
Ittiba’ (mengikuti Rasulullah SAW) adalah bentuk cinta yang teruji. Ini menjadi barometer keimanan yang tulus.
Karena orang yang benar-benar mencintai, akan rela menyesuaikan langkahnya, meninggalkan ego, bahkan melawan kecenderungan pribadi demi menyenangkan yang dicintai.
Inilah tantangan cinta kepada Allah:
– Ketika perintah-Nya tidak sejalan dengan hawa nafsu, apakah kita tetap tunduk?
– Saat sunnah Nabi terasa asing di tengah lingkungan yang permisif, masihkah kita berpegang teguh?
– Di saat prinsip Rasulullah berbenturan dengan budaya populer, akankah kita tetap setia?
Itu ujian cinta sejati. Bukan pada saat nyaman dan mudah, tetapi saat kita diuji antara mengikuti kebenaran atau mempertahankan zona aman.
Rasulullah SAW pernah bersabda: “Seluruh umatku akan masuk surga, kecuali yang enggan.” Para sahabat bertanya, “Siapa yang enggan, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Siapa yang mentaatiku, ia masuk surga; dan siapa yang menentangku, maka ia telah enggan.” (HR. Bukhari)
Hadis ini menegaskan bahwa mengikuti Rasul bukan sekadar pilihan tambahan, melainkan jalan menuju ridha Allah.
Cinta yang benar bukan hanya berkata “aku cinta,” tapi rela dibentuk oleh kehendak yang dicintai.
Maka, siapa pun yang mengklaim mencintai Allah, seharusnya tidak bertanya lagi “perlu kah mengikuti Nabi?”
Melainkan bertanya pada diri sendiri: “Sudah seberapa jauh aku meneladani beliau hari ini?”
Penutup
Jika kita merangkum segala yang telah dibahas, maka satu hal menjadi terang: ittiba’ kepada Rasulullah SAW bukan sekadar pilihan, tapi kebutuhan iman yang hakiki.
Rasulullah adalah petunjuk hidup yang relevan sepanjang zaman. Dalam setiap ajaran dan teladannya, ada cahaya yang menuntun kita di tengah zaman yang seringkali gelap oleh kebingungan nilai.
Kini, mari sejenak kita bertanya pada diri sendiri:
Sudahkah kita benar-benar mengenal beliau, atau hanya sekadar mengaguminya dari kejauhan? Ataukah cinta kita baru sebatas retorika, belum menjelma dalam kesungguhan?
Sebagaimana pepatah bijak menyimpulkan dengan sederhana namun dalam:
“Cinta itu bukan di lisan, tapi dalam ketaatan.”
Maka, mari kita ubah pengakuan menjadi tindakan, dan rasa menjadi bukti. Karena tidak ada cinta yang lebih mulia, selain cinta yang membimbing kita menuju surga.
Great Students are Produced by a Great School
SMP International Islamic Secondary School (SMP IISS) adalah bagian dari Yayasan International Islamic Education Council (IIEC), yang didirikan di Indonesia sebagai simbol representasi umat Islam dunia.
SMP IISS berbasis kepada lima pilar kurikulum yang dirancang sebaik mungkin dan terintegrasi menjadi satu kesatuan tak terpisahkan sehingga menjadikan sekolah ini sebagai sekolah kehidupan. Dimana mencetak anak didiknya, menjadi individu yang terisi segala aspek kehidupan baik itu pola pikir, rohani, jasmani dan keterampilan.
Keunggulan SMP IISS
SMP International Islamic Secondary School (SMP IISS) adalah sekolah Islam berkonsep asrama yang menerapkan ajaran-ajaran Islam sesuai Al-Qur’an dan Sunnah yang memiliki beberapa keunggulan, diantaranya:
1. Sekolah Boarding bertaraf International.
2. Terakreditasi A.
3. Overseas Program ke Negara: Jordan, New Zealand, Canada, United State dan Australia.
4. Program Akselerasi.
5. Target Hafalan 2 Juz.
6. Fasilitas Sekolah yang Menarik.
7. Networking.
8. Mendapatkan Ijazah Nasional (Diknas) dan International (Ijazah yayasan IIEC).
Hubungi Kami
Mari bergabung bersama kami, menjadi bagian keluarga besar International Islamic Education Council (IIEC). Untuk mendapatkan informasi lebih lengkap, silahkan hubungi kami pada kontak yang tertera di bawah ini:
Email: admission@iiec-edu.com
Telp: +62-811-346-767
WhatsApp: +62-811-346-767 (klik untuk chat langsung)
Pendidikan SMP IISS adalah berdasarkan Al-Quran dan sunnah Rasul ﷺ yang menghantarkan manusia pada cakrawala ilmu yang terang benderang, melebur tembok-tembok perbedaan serta menembus tabir-tabir kegelapan.
Pendidikan ini mengantarkan anak-anak kita untuk dapat menjadi umat yang mampu mengimplemantasikan Islam secara utuh dan konsisten, karena dengan demikianlah mereka dapat menjadi lokomotif serta menjadi tulang punggung tegaknya kemuliaan hidup di muka bumi ini.


