Hari pertama masuk boarding school sering kali terasa seperti babak baru yang penuh kejutan. Ada yang bersemangat, ada pula yang diam-diam diliputi rasa canggung, bahkan galau
Rindu keluarga, lingkungan yang asing, hingga rutinitas yang serba berbeda bisa membuat hati terasa campur aduk.
Namun, jangan buru-buru menilai galau itu sebagai kelemahan. Justru, rasa itulah yang menandakan kita sedang belajar beradaptasi.
Semua orang pasti pernah mengalaminya, hanya cara menghadapi saja yang membedakan. Jika dikelola dengan baik, kegelisahan itu bisa menjadi cara untuk mengenali diri, melatih kemandirian, dan membentuk ketangguhan mental.
Boarding school bukan sekadar tempat belajar ilmu, tetapi juga arena menempa jiwa agar lebih matang dan siap menghadapi kehidupan.
Tips Anti Galau untuk Anak Baru di Boarding School
Masuk ke dunia boarding school sering kali terasa seperti melangkah ke ruang baru yang penuh aturan, rutinitas, dan wajah-wajah asing.
Namun, jangan khawatir. Ada banyak cara yang bisa membantu melewati fase ini dengan lebih ringan dan menyenangkan.
Berikut beberapa tips yang bisa menjadi teman perjalananmu di awal adaptasi.
1. Kenali dan Terima Perasaanmu
Merasa rindu rumah, bingung menghadapi aturan baru, atau bahkan takut salah adalah hal yang sangat wajar ketika pertama kali hidup di boarding school.
Perasaan itu bukan tanda kelemahan, melainkan reaksi alami dari jiwa yang sedang berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.
Alih-alih menolak atau menekan emosi tersebut, cobalah untuk menerimanya dengan lapang. Mengabaikan perasaan hanya akan membuatnya semakin menumpuk.
Sebaliknya, ketika kita jujur mengakui apa yang sedang dirasakan, hati akan terasa lebih lega.
Salah satu cara untuk mengelolanya adalah dengan menulis jurnal. Tuangkan isi pikiran dan rasa di atas kertas, biarkan ia mengalir tanpa perlu takut dihakimi.
Terkadang, membaca kembali tulisan itu bisa memberi kita sudut pandang baru. Selain itu, berbagi cerita dengan teman sebaya, ustadzah, atau guru pembimbing juga dapat menjadi ruang aman untuk mendapat nasihat, dukungan, sekaligus kelegaan.
Mengelola perasaan bukan berarti menghapusnya, melainkan belajar berdamai. Dan dari proses inilah, mental kita perlahan terlatih untuk lebih kuat menghadapi tantangan-tantangan berikutnya.
2. Bangun Kebiasaan Positif Sejak Awal
Hari-hari pertama di boarding school adalah momen untuk membentuk pola hidup yang sehat dan terarah.
Rutinitas sederhana seperti tidur cukup, ibadah tepat waktu, serta belajar secara teratur akan membantu pikiran tetap jernih dan hati lebih tenang.
Pola hidup yang rapi ibarat pondasi; semakin kokoh ia ditanamkan sejak awal, semakin mudah langkah kita dalam menjalani keseharian.
Otak manusia menyukai keteraturan. Saat jadwal harian tersusun jelas, beban pikiran berkurang karena kita tahu apa yang harus dilakukan.
Inilah mengapa rutinitas mampu menghadirkan rasa stabil dan mencegah galau berkepanjangan.
Cobalah mulai dengan hal ringan, misalnya membuat to-do list sederhana setiap pagi. Tuliskan tiga hingga lima hal utama yang ingin diselesaikan hari itu.
Tidak perlu muluk, yang terpenting adalah konsisten melakukannya. Perasaan puas ketika berhasil mencoret daftar tugas akan menjadi energi positif yang menjaga semangat sepanjang hari.
Dengan membiasakan diri pada kebiasaan yang sehat, boarding school tak lagi terasa menekan, melainkan menjadi tempat di mana kita belajar mengatur diri sekaligus mengasah kedewasaan.
4. Cari Teman, Jangan Menutup Diri
Salah satu obat paling manjur untuk mengusir galau di boarding school adalah memiliki teman. Namun, pertemanan tidak hadir begitu saja; perlu ada langkah kecil dari diri kita untuk membuka jalan.
Cobalah mulai dengan hal sederhana, misalnya menyapa, menawarkan bantuan, atau menanyakan kabar. Percakapan ringan seperti, “Sudah makan?” atau “Kelasnya di mana?” sering kali menjadi awal masuk untuk obrolan yang lebih hangat.
Jangan remehkan kekuatan sebuah senyuman. Sikap ramah dan terbuka membuat orang lain merasa nyaman mendekat. Kita tidak harus menjadi pribadi yang super cerewet; cukup menunjukkan ketulusan dan kerendahan hati sudah cukup untuk menarik simpati.
Dan ingat, teman yang baik bukan hanya pandai bercerita, tetapi juga siap mendengarkan. Saat kita mau menjadi pendengar yang tulus, orang lain akan merasa dihargai. Dari situlah, hubungan yang sehat dan bermakna bisa terbangun.
Membuka diri pada lingkungan baru memang butuh keberanian, tetapi hasilnya jauh lebih indah: rasa galau berkurang, hati lebih tenang, dan hari-hari di boarding school terasa penuh warna.
5. Aktif Ikut Kegiatan di Asrama
Salah satu cara paling efektif untuk mengusir rasa galau adalah dengan menyibukkan diri dalam aktivitas positif.
Di boarding school biasanya tersedia banyak pilihan kegiatan, mulai dari ekstrakurikuler olahraga, seni, hingga kegiatan sunnah seperti kajian atau halaqah.
Mengikuti aktivitas ini bukan hanya mengisi waktu, tetapi juga menjaga pikiran agar tidak larut dalam kesepian.
Melibatkan diri dalam kegiatan berarti memberi kesempatan bagi diri untuk berkembang. Terkadang, dari sebuah hobi yang sederhana kita bisa menemukan bakat terpendam yang sebelumnya tak pernah disadari.
Lebih dari itu, kegiatan bersama membuka jalan untuk bertemu teman-teman baru yang satu frekuensi. Lingkungan yang positif akan menjadi benteng kuat saat rasa rindu rumah mulai menyerang.
6. Ingat Tujuan Besarmu di Boarding School
Di balik segala perasaan yang datang silih berganti, ada alasan kuat mengapa kita berada di boarding school. Tujuan utamanya jelas: menimba ilmu, memperbaiki diri, dan belajar kemandirian.
Saat galau datang, ingat kembali misi ini sebagai penguat langkah.
Menuliskan visi pribadi bisa menjadi pengingat yang ampuh. Misalnya, “Aku ingin pulang dengan ilmu yang bermanfaat” atau “Aku sedang berlatih menjadi pribadi yang lebih tangguh.”
Kalimat sederhana itu bisa ditempel di buku catatan agar selalu terbaca setiap hari.
Ingatlah bahwa rasa galau hanyalah fase sementara, sedangkan ilmu, pengalaman, dan kedewasaan yang diperoleh di boarding school akan menjadi bekal abadi.
Penutup
Galau di hari-hari pertama boarding school bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Perlu diingat, galau bukan musuh.
Justru tanda bahwa kita sedang beradaptasi, sedang belajar menjadi pribadi yang lebih tangguh.
Sama seperti benih yang harus menembus tanah sebelum tumbuh menjadi pohon, sedikit rasa tidak nyaman sering kali menjadi jalan menuju kedewasaan.
Maka, jangan khawatir berlebihan. Percayalah bahwa setiap fase sulit akan berlalu, digantikan dengan kebiasaan yang lebih kuat, pengalaman yang lebih kaya, dan hati yang lebih matang.
Great Students are Produced by a Great School
SMP International Islamic Secondary School (SMP IISS) adalah bagian dari Yayasan International Islamic Education Council (IIEC), yang didirikan di Indonesia sebagai simbol representasi umat Islam dunia.
SMP IISS berbasis kepada lima pilar kurikulum yang dirancang sebaik mungkin dan terintegrasi menjadi satu kesatuan tak terpisahkan sehingga menjadikan sekolah ini sebagai sekolah kehidupan. Dimana mencetak anak didiknya, menjadi individu yang terisi segala aspek kehidupan baik itu pola pikir, rohani, jasmani dan keterampilan.
Keunggulan SMP IISS
SMP International Islamic Secondary School (SMP IISS) adalah sekolah Islam berkonsep asrama yang menerapkan ajaran-ajaran Islam sesuai Al-Qur’an dan Sunnah yang memiliki beberapa keunggulan, diantaranya:
1. Sekolah Boarding bertaraf International.
2. Terakreditasi A.
3. Overseas Program ke Negara: Jordan, New Zealand, Canada, United State dan Australia.
4. Program Akselerasi.
5. Target Hafalan 2 Juz.
6. Fasilitas Sekolah yang Menarik.
7. Networking.
8. Mendapatkan Ijazah Nasional (Diknas) dan International (Ijazah yayasan IIEC).
Hubungi Kami
Mari bergabung bersama kami, menjadi bagian keluarga besar International Islamic Education Council (IIEC). Untuk mendapatkan informasi lebih lengkap, silahkan hubungi kami pada kontak yang tertera di bawah ini:
Email: admission@iiec-edu.com
Telp: +62-811-346-767
WhatsApp: +62-811-346-767 (klik untuk chat langsung)
Pendidikan SMP IISS adalah berdasarkan Al-Quran dan sunnah Rasul ﷺ yang menghantarkan manusia pada cakrawala ilmu yang terang benderang, melebur tembok-tembok perbedaan serta menembus tabir-tabir kegelapan.
Pendidikan ini mengantarkan anak-anak kita untuk dapat menjadi umat yang mampu mengimplemantasikan Islam secara utuh dan konsisten, karena dengan demikianlah mereka dapat menjadi lokomotif serta menjadi tulang punggung tegaknya kemuliaan hidup di muka bumi ini.


